Rabu, 11 Maret 2026

HUKUM USANG YANG DIPERALAT

 


Aku hanya pelaut yang baru lahir

menuntun sekoci ekspor impor

menerjang derap tangis fajar

yang menusuk raga

hingga matahari beranjak

dari peraduannya yang buncah


Aku hanya pelaut yang polos hati

dibayar 'tuk mengirim barang konkret

bukanlah nasib yang pedih

pedaganglah yang mengirim petaka itu

petaka yang berwajah bubuk

seraya mengundang kontradiksi


Aku hanya pelaut yang nihil pengalaman

disidang tak butuh bukti, tak butuh alibi

mempertaruhkan nasib yang nisbi

berujung takdir yang kebakaran

Minggu, 01 Maret 2026

SANG BERINGAS YANG MELARAT

 

 


Mentari memandangi rimba yang tandas. Disapu oleh derasnya kerakusan nan kekuatan. Pohon tumbang bak mantra-mantra yang penuh dusta. Masyarakat kocar-kacir tak berarah. Dengan takzim tersita ajalnya oleh maha es. Perkampungan melebur dengan pijakan yang sembap. Didalangi oleh sang diktator

 

Satwa-satwa kehilangan surga kecil tuk didiami. Tertatih-tatih mencari tunas baru yang kokoh, sang beringas pun ikut serta-merta. Tetapi sial menghantuinya. Terlalu buyar melarat ke pemukiman. Tumbang dikuliti hingga nihil. Tak bersalah, tak berdusta.


Sidoarjo, 2 Februari 2026

CERMIN SAKSI YANG GAMANG




Malam hari memonopoli tuanku
mengulurkan bajik yang gagu
walau ditaburi manfaat semu
dengan hipnotis secara melulu
disitukah aku meragu
bahwa tuanku tak setia padaku

Malam hari menawar tuanku
menunjukku dengan rasa kesumat
dengan buyar ia menuruti
bersulang atas kelicikannya
burung hantu pun bersiul

Hantamannya menyobek paras
tatapannya kosong tak berisi
mungkin lupa disuapi rasa puas
dengan itu aku berhipotesis:
manusia terlalu meleburkan diri 
ke dalam kesedihan
manusia terlalu sibuk
sampai lupa kontemplasi
manusia terlalu mabuk
sampai tak sadar
bacin sedang menyeruak.

Sidoarjo, 2 Maret 2026

HUKUM USANG YANG DIPERALAT

  Aku hanya pelaut yang baru lahir menuntun sekoci ekspor impor menerjang derap tangis fajar yang menusuk raga hingga matahari beranjak dari...